Sebuah
Perspektif Tentang Uban
(penulis : Veya)
Semua ini berawal dari kejadian yang sebenarnya sepele. Suatu hari aku bertemu sahabat lama, teman semasa sekolah yang dulu pernah sangat dekat denganku. Saat itu ia sedang melihatku yang tidak mengenakan jilbab. Secara otomatis, matanya tertuju ke rambutku. Dimana mulai banyak bermunculan uban diatasnya. Dengan gaya ceplas-ceplos yang tak pernah berubah darinya sejak dulu, dia berkata dengan penuh keheranan. “Ya Allah mbak… rambutmu.. masih muda kok ubannya udah banyak aja?”.
Yaak.. dess!!, tanpa babibu. Diantara jutaan kalimat yang bisa ia
ucapkan setelah perjumpaan kami, kenapa harus uban yang dibahas, sih? Cara dia
mengatakannya tuh seperti sedang melihat sesuatu yang salah. Seolah uban
adalah aib yang tidak seharusnya muncul di usia segini.
Aku nggak marah. Tapi ya agak ngilu hatiku karena kata-katanya yang asem
pedas itu.
Sejak itu aku jadi lebih aware tiap bercermin dan melihat rambutku. Setiap ada satu helai putih muncul, langsung kucabut. Kadang sambil ngomel dalam hati, “Masak sih… baru 30-an udah banyak uban begini?
Uban dan Rasa
Malu yang Diam-diam
Uban terasa seperti pengumuman yang tidak diminta. Seolah itu adalah tanda
bahwa kita menua terlalu cepat, terlalu
banyak pikiran atau hidup kita terlalu berat. Makanya refleks kebanyakan orang ketika
melihatnya adalah dengan mencabut, menutupi dengan pewarna atau menyembunyikannya
dibalik penutup kepala. Padahal mencabuti uban atau mewarnai rambut jika
terlalu sering dilakukan juga tidak baik untuk kesehatan. Sampai suatu titik
aku capek sendiri. Capek merasa ada yang salah dengan diriku hanya karena warna
rambut berubah.
Padahal… kalau dipikir-pikir, kenapa harus malu?
Lihat saja Pak Ganjar Pranowo. Rambut memutihnya tidak membuatnya
terlihat “rusak”. Justru malah memberi kesan matang dan tenang. Atau Bu Nana
Padmo, meskipun memutih rambutnya, beliau tetap terlihat cantik, awet muda dan imutable.
hehehe
Jadi, pelan-pelan, seiring bertumbuh kesadaranku, aku mengubah cara
melihatnya.
Uban bukan lagi sesuatu yang harus disingkirkan. Tapi sesuatu yang bisa
diajak berdamai. Sekarang, tiap kali bercermin dan melihat uban itu, aku mulai
ngomong ke diri sendiri, “Gapapa. Uban tidak mengurangi cantikku. Tidak
menyusutkan nilaiku sebagai manusia.”
Sejak saat itu aku mulai meyakini, bahwa semakin banyak uban, semakin
dewasa hidupku. Semakin banyak uban,semakin luas rezekiku. Semakin banyak uban,
semakin kuat tubuhku.
Sungguh afirmasi pribadi yang agak absurd, wkwkwkw. Tapi anehnya, itu
menenangkanku dan membuatku bangga pada uban-uban di kepalaku. Lama-lama, tiap
kali orang memandang dengan ekspresi yang sama seperti sahabatku dulu, yang
seolah berkata tanpa suara, “Masih muda kok ubanan…”. Aku jadi santai saja.
Sambil bergumam dalam hati: Yaudah sih.
Uban ini bukan ancaman. Ia cuma tanda bahwa aku masih berjalan sejauh
ini. Dan itu patut disyukuri.
Lucunya, perspektif ini bisa menular. Bukan cuma soal rambut, tapi juga ketika
kita melihat kekurangan yang lain, yang
menjadikan kita patah hati pada diri sendiri. Yang paling penting bukan dengan
melihat wujud bendanya, namun amati bagaimana rasa yang timbul ketika merespon
sesuatu. Misal ketika melihat kedalam cermin…. jangan fokus pada wajah yang
menua, namun bersyukur dan berdoalah, dengan bertambah banyaknya keriput,
pori-pori yang membesar, jerawat bandel, flek yang enggan pudar.. Jadikan itu
alasan agar keberlimpahan semakin datang ke hidup kita dengan meluaskan
penerimaan diri terhadap sesuatu yang pasti terjadi dan berada diluar kendali
kita. maka kita tinggal mengubah rasanya, ubah getarannya, ubah isi do'anya.
Jadi ya, ini memang hanya cerita tentang uban. Tentang helai putih kecil yang dulu membuatku gelisah, lalu diam-diam mengajarkanku cara berdamai. Bukan dengan waktu, tapi dengan diriku sendiri. uban juga mengajarkanku bahwa keberlimpahan bukan hanya tentang menarik apa yang kita inginkan, tapi juga tentang ketika kita bisa mensyukuri dan menerima apa adanya keadaan di dalam diri kita. Uban adalah pengingat kecil bahwa kehidupan terus bergerak, semakin lama harus semakin bijaksana, dan aku bersyukur karena masih ada didalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar