Kuberanikan Diri Memeluk Kekecewaan



 Kuberanikan Diri Memeluk Kekecewaan

Ditulis oleh: Nay


Setelah drama panjang masa remaja, akhirnya putra sulungku berhasil menyelesaikan sekolah menengah atas, kami sekeluarga pun sangat lega dan berbahagia, dia pun memiliki cita cita besar ingin menjadi orang sukses nantinya dan berjanji akan menyudahi "kenakalanya" dan menjadi anak baik kebanggan keluarga, akupun sebagai ibunya sangat bahagia mendengar itu, dan terharu seolah teringat ketika aku melahirkan ya, merawatnya ketika dia masih bayi mungil menggemaskan ternyata sekarang anak sulungku sudah menjadi pria remaja menuju dewasa.

Dia sangat berjuang keras memasukkan lamaran pekerjaan kesana kemarin, dan Alhamdulillah akhirnya nasib baikpun berpihak pada anakku, dia diterima kerja. Hari hari dia lalui dengan giat bekerja, akupun sebagai ibunya dengan semangat menyiapkan semua keperluan ya, karna bagiku meskipun anaku sudah besar sudah menuju dewasa tetap saja dimataku dia masih bayi kecilku yang akan terus kurawat dan kulayani dengan baik dan penuh kasih sayang.

Tiba saatnya anakku mendapatkan gaji pertamanya, dia memberikanku sebagian dari gajinya, katanya "ibu... Alhamdulillah anakmu sudah bisa mencari uang, ini sedikit rejeki buat ibu, doakan aku sukses ya Bu...."
Tak tahan aku menahan tangis haru dan bahagia, kupeluk erat anakku... Aku tidak bisa berkata-kata, terus kupeluk erat anakku dan kujawab lirih... "tentu sayang, tentu ibu selalu mendoakan untuk keselamatanmu, kesuksesanmu serta kebahagiaanmu, terus jadi anak baik ya sayang..."

"iya Bu, aku janji!" jawab anakku.

Beberapa bulan berlalu, 

Waktu itu sudah malam dia baru pulang, dengan wajah yang murung, takut dan bingung dia datang kepadaku..diam, gemetar..

Aku dekati dia, dan kutanya.. "Ada apa nak?" 

Dia masih diam..

"Kutanya lagi, katakan saja ada apa nak?"

Lalu dengan menunduk dia berkata lirih, "Maafkan aku ibu.. ayah.. aku sudah membuatn kalian kecewa, aku sudah melakukan kesalahan besar, aku sudah menghancurkan masa depanku sendiri."

Bagaikan tersambar petir, akupun syok mendengar pengakuan anaku, putra sulungku yang sangat kusayangi, sangat aku banggakan, dan aku menaruh besar harapan kepada dia, aku sangat berharap anaku menjadi kebanggaan keluarga, bisa menjadi orang sukses dan membantu adik-adiknya nanti..apakah aku salah selama ini berharap seperti itu, sampe akhirnya kekecewaan mendalam yang aku dapatkan?

Aku terdiam, bingung, lemas tidak tau harus berkata apa dan bertindak seperti apa. Kami berdua terdiam, ayahnya pun terdiam, kami sama-sama diam membisu.

Di malam yang sunyi, sepi, tapi pikiranku ramai sekali, entah apa yang kupikirkan ingin marah, kecewa, dan bertanya kenapa harus begini? Dan kenapa harus aku dan anaku? Tapi pelan-pelan kusadari apakah kesalahan tidak pantas dimaafkan? Apakah marah dapat memperbaiki keadaan? 

Keesokan paginya kami duduk bersama lagi, dan dengan suasana hati yang sedikit lebih baik, lalu kusampaikan.. "Nak apa yang sudah kamu buat, makasih itu sudah seharusnya kamu bertanggung jawab, ibu akui ibu sangat kecewa, tapi kamu tetap anaku jadi kita hadapi ini sama- sama yaa..."

Dalam hidup tentu saja tidak semua mulus dan selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan, kadangkala ada kepahitan yang harus kita terima, dan aku memilih memaafkan anaku, memaafkan diriku dan memeluk kekecewaan itu untuk melanjutkan hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar