NILAI DIRI ADALAH FONDASI SELF LOVE
Memahami, Menanamkan, dan Mempraktikkannya dalam Kehidupan Sehari-hari
Ditulis oleh: Agustiyani Esti Pawestri
(Member Komunitas Permata Hati Batch 5)
Banyak orang berusaha mencintai diri sendiri, namun tetap merasa hampa dan kelelahan. Bukan karena mereka gagal melakukan self love, melainkan karena fondasinya belum kokoh. Fondasi itu bernama nilai diri.
Tanpa pemahaman tentang nilai diri, self love mudah berubah menjadi tuntutan baru, yaitu berupa gambaran harus kuat, harus pulih, harus berkembang.
Padahal hakikatnya self love justru dimulai dari kesadaran paling dasar, berupa merasakan bahwa keberadaan diri ini sudah berharga, bahkan sebelum melakukan apa pun.
Layaknya bayi, bayi itu tidak produktif, tidak membantu, sering menangis, dan merepotkan. Namun, apakah ia tidak berharga?
Nah, dari sanalah pemahaman nilai diri mulai bangkit. Ya, nilai diri sama seperti itu. Sama seperti kita memandang bahwa diri kita tetap berharga dengan segala kondisinya. Kita hanya lupa bahwa nilai diri sejatinya terasa seperti itu.
Kesalahpahaman Memandang Nilai Diri dari Prestasi dan Performa
Nilai diri bukanlah hasil pencapaian, pengakuan, atau seberapa bergunanya kita bagi orang lain. Ia tidak naik saat kita berhasil dan tidak turun saat kita gagal. Nilai diri adalah kesadaran bahwa keberadaan kita sendiri layak dihormati dan dirawat.
Analogi sederhananya seperti ini.
Bayangkan ada sebuah rumah. Saat hujan deras dan atap bocor, kita tidak merobohkan rumah itu lalu menyalahkannya karena “tidak sempurna”. Kita memperbaikinya karena rumah itu layak ditinggali.
Nilai diri bekerja seperti itu. Ia membuat kita merawat diri, bukan menghukumnya, saat ada bagian yang rusak.
Menanamkan Nilai Diri dalam Batin
Menanamkan nilai diri bukan dengan afirmasi berlebihan, melainkan dengan mengubah cara pandang kita dalam memperlakukan diri sendiri saat sedang tidak berdaya.
Tanpa nilai diri, batin dipenuhi kalimat keras pada diri sendiri berupa labeling diri, seperti, “Aku payah”, “Aku merepotkan”, “Aku seharusnya bisa”.
Dengan pemaknaan nilai diri yang sehat, kalimat itu berubah menjadi, “Aku sedang kelelahan”, “Aku sedang butuh jeda”, “Aku tetap layak dirawat”.
Ilustrasinya begini, perhatikan bagaimana kita bersikap pada anak kecil yang kelelahan. Kita tidak berkata, “Ayo cepat, kamu lemah.” Kita justru akan menenangkan dan memeluknya, bukan?
Nilai diri mengajak kita melakukan hal yang sama pada diri sendiri.
Nilai Diri dan Self Love yang Berjalan Beriringan
Nilai diri adalah keyakinan, self love adalah praktiknya. Jika nilai diri adalah akar, maka self love adalah cara kita menyiram dan menjaga agar akar itu tetap hidup.
Dengan nilai diri yang sehat, self love tidak lagi menuntut kesempurnaan. Kita bisa menurunkan standar tanpa merendahkan diri, beristirahat tanpa rasa bersalah, dan menjaga batas tanpa merasa egois.
“Seorang yang kakinya terluka tidak memaksakan diri berlari. Ia berjalan pelan atau berhenti sejenak. Bukan karena ia tidak berharga, tetapi karena ia menghormati kondisinya.”
Self love bekerja dengan logika yang sama.
Mempraktikkan Nilai Diri dalam Kehidupan Sehari-hari
Mempraktikkan nilai diri bukan perubahan besar, melainkan keputusan kecil yang lebih konsisten, berupa:
✅ Bertanya pada diri, “Apa yang kubutuhkan saat ini?”
✅ Menghormati tubuh saat ia meminta istirahat
✅ Tidak membandingkan proses diri dengan orang lain
✅ Mengingat bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh kesempurnaan
Seperti mengisi baterai ponsel yang hampir habis. Kita tidak memarahinya karena dayanya menurun. Kita mencolokkannya ke sumber energi. Istirahat dan jeda adalah bentuk pengisian, bukan kemunduran.
Nilai diri tidak perlu dibuktikan. Ia hanya perlu diakui dengan jujur dan lembut. Dari pengakuan itulah self love secara alami bertumbuh dalam ruang yang menenangkan batin, jujur, dan manusiawi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar