Dan, pabila esok datang kembali,
seperti sedia kala di mana ku bisa bercanda
Dan, perlahan kaupun lupakan aku,
Mimpi burukmu dimana tlah ku
tancapkan duri tajam
Kaupun menangis, menangis sedih
Maafkan aku..
Ada sebuah lagu dari Sheila On 7 berjudul Dan. Lagu itu bercerita
tentang penyesalan seseorang yang pernah menyakiti orang yang ia cintai.
Tentang kesadaran yang datang terlambat, dan kata maaf yang akhirnya
berani diucapkan, meski mungkin tak lagi didengar.
Suatu hari yang sibuk, aku sedang berkutat di dapur. Menyiapkan makanan
untuk anak-anak tersayang. Seperti kebiasaanku sejak dulu, memasak selalu
ditemani lagu dari playlist YouTube yang acak. Entah kebetulan atau semesta
sedang ingin berbicara, lagu Dan mengalun pelan dan tenang.
Tanpa sadar, aku ikut bernyanyi. Mengikuti irama musik dan liriknya.
Lalu aku hanyut dalam syair lagunya. Larut dalam emosi penyanyinya.
Seolah ada sesuatu yang mengetuk pintu jiwaku. Lalu meminta maaf atas
kesalahan dan kebodohannya di masa lalu.
Aku terdiam. Pisau dapur
kuletakkan. Nafas kutarik dalam-dalam. Aku mencari sosok imajiner yang pernah
menyakitiku begitu dalam.
Apakah mantan?
Tidak. Aku sudah memaafkan mereka.
Apakah orang
tuaku, saudaraku, atau sahabatku?
Aku telusuri ingatan, tapi tidak juga menemukan wajah itu.
Pertanyaan itu
justru berbalik arah dan menghujam ke dalam diri:
Siapa yang
paling harus meminta maaf padaku?
Yang dosanya paling besar,
dan kesalahannya paling fatal dalam hidupku?
Dan di sanalah jawabannya menunggu. Diantara kabut masa lalu yang sunyi,
jujur, dan tak terelakkan.
Orang itu adalah diriku sendiri. Diriku yang dulu belum dewasa. Diriku
yang bertahan dengan segala cara yang ia bisa. Diriku yang sering terlalu keras
pada diri sendiri, terlalu sibuk menyalahkan, dan lupa memeluk pedihnya kekecewaan
yang berbanding terbalik dengan indahnya harapan.
Di momen itu aku menyadari, self love bukan tentang memanjakan
diri atau merasa selalu benar. Ia tentang keberanian untuk berdamai. Tentang
mengakui bahwa kita pernah keliru tanpa membenci diri sendiri karenanya. Tentang
meminta maaf dan memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang tak sengaja kita
perbuat karena kelalaian dan sudut pandang yang belum dewasa.
Mencintai diri sendiri adalah saat kita berhenti menuntut versi lama dari
diri kita untuk sudah tahu segalanya. Dan mulai berkata dengan lembut: Aku
tahu kamu dulu belum mampu.
Dan itu tidak apa-apa.
Pada akhirnya, lewat sebuah lagu yang secara acak ku dengar dari playlist
youtube itu, aku memahami satu hal
penting. Orang yang paling perlu dimaafkan dan dicintai lebih dalam bukanlah
siapa pun di luar sana, melainkan diri sendiri. Selama luka itu belum dipeluk
dari dalam, cinta yang kita berikan akan selalu terasa timpang, penuh tuntutan,
harapan, dan sisa-sisa kekosongan.
Ketika hati telah berdamai dengan dirinya sendiri, ketika maaf itu
benar-benar sampai ke ruang terdalam jiwa, di sanalah cinta menjadi utuh. Dari
sana, kita belajar memaafkan dan mencintai orang lain dengan lebih tulus. Bukan
karena butuh, bukan karena takut kehilangan, melainkan karena hati kita sudah
penuh.
Mungkin di antara kita, ada yang masih menunggu kata maaf dari
orang lain. Dari masa lalu yang tak sempat selesai. Melalui refleksi kecil ini,
mari kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur ke dalam diri: sudahkah
aku bersikap lembut pada diriku sendiri?
Komunitas Permata Hati adalah ruang untuk bertumbuh bersama,
saling menguatkan, dan belajar berdamai dengan cerita masing-masing. Semoga
kita berani memulai langkah paling sunyi namun paling menyembuhkan itu. Untuk memeluk
diri sendiri, memaafkan diri sendiri, dan melangkah maju dengan hati yang lebih
utuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar