MENGENALI DISTRESS ANAK MELALUI TULISAN TANGAN
Penulis; Veya
Distress pada Anak Itu Seperti
Apa?
Manusia tidak
mungkin luput dari yang namanya stress. Baik dewasa maupun anak-anak, semuanya
memiliki permasalahan dan tekanannya masing-masing. Sangat tidak mungkin bagi
manusia untuk lari dari tekanan hidup. Jadi yang paling mungkin dilakukan adalah
mengolah stress itu menjadi bentuk yang positif (eustress) atau bentuk yang negatif
(distress).
Eustress
adalah respon stress positif yang dapat memicu kita untuk lebih kreatif,
bertanggungjawab, serta menumbuhkan semangat kerja dan menumbuhkan inspirasi. Sedangkan
distress adalah respon stress negatif yang menyebabkan perasaan tidak nyaman,
kewalahan, cemas, gelisah, dsb.
Orang dewasa
memiliki kapasitas yang lebih luas untuk menyuarakan stress mereka, baik yang
positif maupun yang negatif. Lantas, bagaimana dengan anak-anak yang masih
memiliki banyak keterbatasan dalam hal finansial, media dan juga pengalaman?.
Padahal kita tahu, kebanyakan akar trauma manusia berasal dari stress atau
tekanan pada masa anak-anak yang tidak bisa tersalurkan dengan baik.
Anak-anak
memiliki dunia yang berbeda dengan orang dewasa. Ketika mereka mengalami
tekanan mental, tidak semuanya berani untuk berkomunikasi dengan orangtua. Maka
kita sebagai orang dewasa (utamanya orangtua dan guru) yang harus belajar
supaya dapat mengerti sinyal atau tanda ketika anak-anak sedang merasa tidak
baik-baik saja. Pada anak, distress sering tidak terlihat jelas, karena:
- anak belum punya bahasa emosi
- belum bisa minta tolong dengan kata
- takut dimarahi / tidak dipercaya
Jenis-jenis
distress pada anak dapat dikelompokkan berdasarkan hal berikut:
· 1. Distress emosional ; distress yang terjadi
karena perasaan terlalu penuh seperti terlalu sedih, terlalu takut, marah,
bingung yang bercampur jadi satu. Tandanya anak mudah menangis, sensitif
berebihan, dan cepat lelah.
· 2. Distress kognitif ; distress yang terjadi karena pikiran kacau,
sulit fokus, sulit mengambil keputusan. Tandanya tulisan anak tidak rapi/tidak
logis, sering lupa, dan bingung menjawab pertanyaan sederhana.
· 3. Distress relasional ; distress yang terjadi
karena rusaknya hubungan dengan orang disekitar anak seperti orangtua, teman
dan guru. Tandanya anak melekat berlebihan pada satu orang, takut ditinggal,
atau bahkan menarik diri dari yang lain.
· 4. Distress somatik ; distress yang terjadi dari
emosi anak yang berdampak pada kesehatan dan kondisi fisiknya. Tandanya ada
bagian tubuh yang mendadak sakit tanpa sebab medis.
Kadang, kita tidak
tahu luka apa yang sedang disembunyikan oleh anak kecil. Mereka selalu tertawa
dengan lepas, tersenyum tanpa tekanan, bermain dengan ceria seolah tak memiliki
beban. Tapi kita bisa mengetahui masalah yang mereka pendam dengan mengamati tanda
distress yang muncul lewat tulisan, gambar, perubahan perilaku dan keluhan
fisiknya .
Sebagai orangtua, kita harus lebih waspada ketika anak menunjukkan tanda distress. Karena distress yang tidak tertangani dengan baik dapat membuat anak merasa sendirian, menurunkan harga diri, menghilangkan rasa aman, bahkan bisa berkembang menjadi perilaku yang menyakiti diri dan orang lain disekitarnya.
Memahami Distress dengan Ilmu Grafologi
Beberapa anak
memiliki bahasa yang terbatas untuk mengungkapkan apa yang mereka pendam. Namun
tidak perlu gelisah, karena apa yang mereka simpan dibawah sadar bisa kita
ketahui dengan ilmu grafologi. Grafologi adalah Ilmu untuk menganalisa bentuk
tulisan tangan. Ilmu ini bisa mengungkapkan karakter dan kecenderungan
seseorang dengan melihat tekanan huruf, baseline, ukuran huruf, spasi,
kemiringan huruf dan sebagainya.
Peran grafologi disini adalah sebagai deteksi dini emosi anak. Grafologi membantu orang dewasa melihat sinyal lebih awal, sebelum distress menjadi perilaku yang berbahaya. Beberapa tanda bahaya distress yang bisa kita ketahui melalui tulisan anak antara lain;
a. a. Tekanan
tulisan tidak stabil
Ketika tulisan
anak terlihat tidak stabil (dalam satu kalimat kadang tekanannya terlalu kuat,
lalu terlalu lemah), apalagi jika diikuti tinta yang rembes, ini menunjukkan si
anak sedang mengalami emosi tertahan dan tidak terkendali. garis huruf yang
tipis menunjukkan kelelahan batin dan harga diri yang lemah.
Perlu diperhatikan
juga, jika tulisan anak melemah di akhir dengan baseline/garis dasar yang
menurun, itu adalah ciri-ciri frustasi.
b. b. Tulisan
bergetar atau terputus
Dalam grafologi,
menulis huruf dengan terputus atau tidak menyatu antara tiang dan badannya
(seperti huruf a, b, d, h, k,p,q,r dst) sering disebut tanda disconnect
yang menunjukkan keinginan untuk terlepas dari beban, masalah, atau masa lalu.
c. c. Ukuran
huruf dan spasi.
Ukuran huruf yang
ditulis umumnya memiliki tinggi 3-4 mm atau setengah tinggi garis di buku
tulis (ukuran huruf kecil). Ketika anak-anak menulis dengan ukuran huruf yang
sangat kecil, ini menandakan ada masalah dengan rasa percaya diri dan harga diri
yang rendah.
Jika anak menulis dengan spasi yang terlalu lebar (lebih dari dua kali ukuran huruf m) si anak cenderung merasa sendirian, menarik diri dari lingkungan dan kesepian. Namun jika menulis dengan spasi yang terlalu rapat (kurang dari ukuran satu huruf m), si anak cenderung memiliki kemelekatan yang tinggi.
Berikut, saya cantumkan contoh tulisan seorang anak kepada mamanya yang viral karena si anak ini bunuh diri karena tidak diberi uang untuk membeli pensil dan buku. Kita bisa menyaksikan adanya tanda distress yang tampak dari bentuk tulisan tangannya.
Pada gambar
ini, ada tanda tekanan batin yang sangat serius dalam tulisan dan gambarnya. Jika
dilihat dari tulisan tangannya, tekanan tulisan sangat tidak stabil. Kadang terlalu
menekan, kadang terlalu lemah, baseline/garisnya tidak konsisten dan banyak
huruf yang terputus. Ini menunjukkan tanda lelah secara emosi, hopelessness,
dan konflik batin antara ingin bertahan atau ingin menyerah. Ditambah gambar
anak kecil yang menangis menyiratkan betapa pedih hatinya saat itu. pengulangan kata mama, memiliki makna ketergantungan emosional yang tinggi atau sedang berkonflik dengan figur penting di hidupnya, yaitu ibunya.
Sebenarnya,
banyak tanda bahaya pada distress yang bisa kita ketahui dengan menganalisa
bentuk tulisan tangan. Namun, grafologi disini berfungsi sebagai deteksi dini
tanpa melabeli, melainkan memberi pendampingan lebih awal kepada anak ketika
menunjukkan tanda distress. Karena banyak luka bisa dicegah ketika orang dewasa
mau belajar dan membaca bahasa anak.
Ada hal yang jauh lebih penting setelah kita mampu mendeteksi tanda-tanda
distress pada anak, yaitu tindakan apa yang kita pilih setelahnya. Usahakan
untuk tidak menuduh, tidak menakut-nakuti, tidak menghakimi, dan tidak larut
dalam overthinking.
Sebagai pribadi yang lebih dewasa, langkah awal yang perlu kita ambil
adalah mendekati anak dengan empati, mendengarkan tanpa tergesa mengoreksi,
memvalidasi perasaan mereka, serta membuka kemungkinan untuk mencari bantuan
profesional bila diperlukan.
Anak-anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Kehadiran mereka di
dunia ini adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai orang dewasa. Karena
itu, kitalah yang seharusnya lebih dahulu bersedia berbenah, agar mampu
mendampingi tumbuh kembang mereka dengan lebih sadar dan penuh kasih.
Pada akhirnya, menjadi dewasa bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru ada begitu banyak kajian dan ilmu baru yang bisa kita pelajari untuk membangun kedekatan dengan anak dan memahami dunia mereka. Salah satunya adalah belajar grafologi, sebagai alat deteksi dini yang membantu kita membaca kondisi emosional anak secara lebih lembut, objektif, dan tanpa menghakimi. Dengan begitu, kita tidak lagi hanya bereaksi terhadap perilaku anak, tetapi mulai memahami apa yang sedang mereka rasakan dan butuhkan di baliknya. Sehingga pendampingan yang kita berikan tidak berhenti pada penilaian, melainkan bergerak menuju pemahaman dan dukungan yang lebih tepat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar