TENTANG NASEHAT


 


TENTANG NASEHAT

Ditulis oleh : Nay

   Tiba-tiba kakakku menelfonku dan mengatakan "Aku sudah menasehati adikmu untuk begini begitu, melakukan hal ini itu, agar adikmu bisa lebih baik ke depannya, tidak hanya bermalas-malasan seperti sekarang ini!" dan bla bla bla, masih banyak lagi kata-kata yang beliau anggap nasehat itu yang sudah disampaikan ke adikku, dan beliau marah karena merasa adikku tidak mau mendengarkan nesehat darinya.

    Dan tak lama kemudian, adikku datang dan becerita panjang lebar yang intinya dia kurang suka dengan cara kakakku menasehatinya, karena adikku merasa tidak meminta nasehat apapun dari sang kakak dan merasa sang kakak tidak mengetahui kondisi adikku yang sebenarnya.

Dari kejadian tersebut, aku merenung sebenarnya kenapa sih bisa terjadi seperti itu, bukankah menasehati itu hal baik? Tapi kenapa endingnya bukan menjadi kebaikan?

Akhirnya aku jadi belajar lagi tentang nesehat, yang ternyata menasehati itu juga ada adabnya.

Berikut adalah rincian adab memberi nasehat:
  1. Ikhlas karena Allah: Niat utama adalah mengharap rida Allah, bukan untuk mencari pujian, menjatuhkan harga diri, atau menunjukkan kepintaran.
  2. Secara Rahasia (Empat Mata): Nasehat sebaiknya disampaikan secara pribadi. Imam Syafi'i mengatakan, "Siapa yang menasehati saudaranya secara sembunyi-sembunyi, maka ia telah menasehati dan memperbaikinya. Siapa yang menasehati secara terang-terangan, maka ia telah membongkar aib dan mengkhianatinya"
    .
  3. Lemah Lembut: Menggunakan kata-kata yang sopan, santun, dan penuh kasih sayang, tidak bernada menggurui.

Begitu juga kita sebagai orang yang sedang dinasehati sebaiknya kita mengambil sikap terbaik.

Berikut adalah beberapa sikap bijak saat menerima nasehat:

  1. Dengarkan dengan Tenang: Jangan memotong pembicaraan atau langsung membela diri (defensif) saat nasehat disampaikan.
  2. Terima dengan Lapang Dada: Sadari bahwa nasehat bertujuan baik, meskipun cara penyampaiannya mungkin kurang mengenakkan.
  3. Evaluasi Diri: Refleksikan perkataan tersebut, jika memang benar salah, segera perbaiki dan berterima kasih.
  4. Klarifikasi Tanpa Emosi: Jika nasehat didasarkan pada kesalahpahaman, jelaskan fakta yang sebenarnya secara tenang dan sopan.
  5. Hargai Niat Baik: Fokus pada esensi kebaikan dari nasehat tersebut, bukan pada sosok yang menyampaikannya.
  6. Hindari Sakit Hati: Anggap nasehat sebagai ujian, bukan serangan pribadi
    Jadi setelah aku mempelajari tentang adab memberi nasehat, dan juga dari sudut pandangku sendiri dengan mengamati kejadian antara kakak dan adiku itu, maka sebaiknya kita tidak perlu memberikan nasehat jika tidak diminta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar