SEPEREMPAT ABAD


 



SEPEREMPAT ABAD

Alfiani Amsari Putri

(Kebumen – Team 2)


 Ulang, ulang dan terulang lagi.

 Semua hal buruk itu hanya berhenti sejenak dan datang lagi.

 Pada akhirnya, diri ini tidak pernah bisa melepas semua itu secara langsung.

 Hari ini bertekad. Besoknya jiwa mulai kembali pekat. Begitulah yang terjadi pada diriku selama menjalani semua proses penyembuhan ini. Sempat kuberpikir 

“Apa yang salah pada diri ini?”

“Apakah memang semunafik itukah diriku?” 

“Apa ini sudah menjadi sifat mendarah daging?”

“Apakah aku bisa menjadi tenang dengan semua kesemrawutan hidupku?”

“Apa sembuh ini mungkin terjadi?”

 Kutak mengerti mengapa aku kembali lagi pada hal tak menyenangkan itu. Itu tidak hanya membuat diriku kacau. Akan tetapi, sekitarku pun merasakan berantaknya diriku. 

 “Ke Psikiater aja!”

 Hmm, tapi itu bukanlah hal mudah bagiku untuk langsung pergi kesana. Banyak pertanyaan yang berkecamuk jika pada akhirnya aku melangkahkan kaki dan menceritakan semuanya kepada Si Ahli. Entahlah, rasanya ada rasa yang kurang mengenakkan hati jika mendengar hal itu. Seolah-olah aku seperti kehilangan akal ketika berada di sana.

 Memang belum pernah kurasakan berada di tempat itu. Kata orang-orang itu bisa membantu diriku. Tapi, dengan semua hal yang kudengar seringnya kita akan diberikan obat-obatan untuk menenangkan diri. Aku tidak ingin itu. Aku tidak ingin pergi kesana. 

“Apakah tidak ada solusi lain untuk diriku dalam menyembuhkan jiwaku di umurku yang lebih dari seperempat abad ini?” pikirku.

Bertahun-tahun menjalani pasang surut emosi dalam pernikahan hingga diberikan 2 amanah yang sholihah. Aku pun diberikan momen untuk mulai belajar mengenal diriku lagi. Aku merasakan perlahan tapi pasti. Aku mulai melupakan diriku yang dulu selama statusku menjadi seorang istri dan juga ibu. Aku pun memutuskan untuk mengikuti event tersebut.

Di pertengahan perjalanan sesi event ini, aku mulai memahami mengapa aku harus melakukan ini. Mengapa aku mau mengikuti semuanya. Ternyata, tanpa kusadari ada kalimat yang menyadarkanku. 

“Sembuh itu bukan 100% persen merubah. Tapi 10%, kemudian 30%, lalu 60%. Ya, sembuh itu bertahap. Mungkin kemarin kalau kita emosi marah bisa lempar semua barang, tapi di 2 hari kedepan hanya nada saja yang tinggi. Lalu, minggu depan ketika kita emosi marah, mulai diam untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Asal kita berkomitmen untuk merubah menjadi pribadi lebih baik. Semua itu tidak bisa terjadi dalam sekejap. Proses penyembuhan itu perlu dilatih”

Ting…

Kalimat-kalimat yang keluar dan terdengar masuk ke telingaku itu seakan-akan memunculkan bunyi bel dalam kepalaku. Akhirnya aku mulai bertanya kembali pada diriku ini.

“Selama ini seberapa kuat komitmen untuk berubah?”

“Berapa banyak ketidak-konsistenan dari latihan yang dilakukan?”

“Apakah sudah ridho terhadap semua yang terjadi pada hidup?”

Mulai dari mencintai diriku dengan sekuat hati, mendekatkan diri pada Yang Kuasa dan bersyukur pada yang telah terjadi di hari itu. Ternyata serangkaian itu mulai membuatku paham arti penyembuhan diri. 

Aku adalah satu kesatuan utuh. Selama perjalanan hidupku, keutuhanku perlahan tergerus. Kepingan-kepingan jiwa dan ragaku mulai melepas. Aku tidak bisa mengambil Kembali kepingan-kepingan itu untuk menjadikanku utuh kembali. Tetapi, aku bisa membuat kepingan baru untuk menutupi semua kepingan yang hilang pada diriku.

Mungkin tidak bisa kubuat dalam sekejap mata kepingan-kepingan baru itu. Dan mungkin kepingan itu juga tidak akan menutup sepenuhnya diriku. Setidaknya aku adalah aku dengan segala ketidaksempurnaanku. Sembuhku mungkin belum sempurna. Tetapi, aku yang dulu penuh dengan luka bukanlah aku yang menebar ceria hari ini. Dan aku yang di masa mendatang adalah aku yang akan menggenggam

 penuh tubuh ini.


-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar