Self Healing: Dari "Balikin Aja" Jadi "Alhamdulillah Kamu Ada"
Oleh: Evi Sopiyah
Banyak orang bilang, self healing cuma buat orang yang punya waktu luang dan uang lebih. Buat ibu-ibu yang tiap hari perang sama dapur, anak, dan trauma masa kecil? Mustahil.
Saya ngerti. Sebab saya dulu nggak kenal kata healing.Kenalnya cuma surviving.
Bagi saya, rumah bukan tempat untuk pulang. Rumah adalah medan perang. Setiap hari ada teriakan, ada pintu yang dibanting. Dan ada satu kalimat paling tajam yang tertancap selama 22 tahun di kepala saya: “Balikin aja ke orang tuanya.”
Puncak luka itu terjadi saat saya kelas 3 SD. Saya dikurung di gudang gelap oleh ibu hanya karena kesalahan meminta uang jajan berulang-ulang yang membuat orang tua kesal
Di dalam gudang itu tidak ada hal aneh, hanya seorang anak kecil yang bertanya dalam lirih: “Apa aku sejahat ini sampai harus dikurung? Apa aku memang tidak pantas disayang?”
Yang membuat trauma bukan gelapnya. Melainkan sunyinya. Tidak ada yang menggedor pintu. Tidak ada yang memanggil nama saya. Seolah-olah, kehilangan saya pun tidak akan mengubah apa-apa.
Pertanyaan “Apa aku tidak pantas disayang?” itulah yang membuat sistem alarm di tubuh saya menyala selama 22 tahun pernikahan. Menjadi istri, saya takut diselingkuhi. Punya rezeki, saya takut kehilangan. Bahkan ketika rumah terasa tenang, saya curiga: “Ini ketenangan sebelum badai.”
Lantas, mungkinkah self healing untuk anak yang tumbuh dari reruntuhan seperti saya?
Jawabannya: Ya, sangat mungkin.
Self healing versi saya adalah berani pulang ke gudang itu, dan bilang: “Perang selesai di aku. Rantai luka putus di aku.”
Tiga Langkah Self Healing dari Anak yang Pernah Dikurung:
1. Healing = Proses Memeluk Luka Sendiri Terlebih Dahulu
Self healing dimulai hari itu. Saat dalam imajinasi, sebagai proses berdamai dengan inner child
Saya berjongkok di hadapan “anak SD” yang ketakutan, memeluknya erat, dan menjawab pertanyaan yang menggantung 22 tahun:
“Kamu tidak jahat, Kamu pemberani. Dan kamu sangat pantas disayang. Sini aku peluk"
Kita tidak bisa hadir secara emosional untuk anak, jika kita belum berdamai dengan anak kecil di dalam diri kita.
2. Healing = matikan gadget, hidupkan kebersamaan
Distraksi digital membuat kita ada di rumah yang sama, tapi merasa tinggal sendiri- sendiri.
Sebelum tidur mendengar kan cerita anak-anak, beraktifitas seharian saling bergantian
Hanya 15 menit Tidak instan. Namun, Itu healing buat kami sekeluarga
3. Healing = Menghapus Kosakata “Balikin Aja” dari Rumah
Allah sudah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” *(QS. Ar-Ra’d: 11)*
Ayat inilah yang saya pegang
Sekarang Saya mengubah keadaan diri saya dulu. Baru Allah ubah keadaan keluarga saya. Itulah self healing sejati.
Kesimpulan:
Self healing di zaman sekarang bukan lari dari masalah, Melainkan berani menghadapi “gudang” di dalam diri sendiri.
Berani bilang: “Luka dari orang tua cukup di aku. Ke anakku, cuma aku warisin pelukan.”
Allah mengizinkan saya dikurung semalam di gudang. Agar hari ini saya tahu caranya mendobrak “gudang-gudang” gelap di hati ratusan anak lain.
Jadi, mungkinkah? Sangat mungkin.
Dimulai dari satu orang yang berani sembuh, Dimulai dari saya🥰

Tidak ada komentar:
Posting Komentar